Seharusnya Aku Pulang Lebih Awal

Udara dingin sekali hingga menusuk ke dalam kulit.
Kutengadahkan kepala, kilatan cahaya di langit nampak begitu megah menggelegar. Sebersit kenangan kembali menyeruak.
Kenangan yang rasanya ingin aku kubur dalam-dalam.
Sore itu, beberapa saat sebelum turunnya hujan. Aku sedang duduk menyendiri di halte bus depan sekolah. Sekelumit perasaan gelisah yang misterius tiba-tiba menyapaku. Perasaan gelisah yang tak dapat aku terjemahkan.
Kegelisahanku itu barangkali disebabkan oleh bus yang tidak kunjung datang. Atau mungkin awan mendung yang seakan tak sabar untuk memuntahkan isinya. Bisa jadi juga kegelisahanku disebabkan oleh udara lembab yang mulai berhembus membelai pipiku.
Aku melirik arlojiku. Pukul 17.17.
Aku yakin tak sampai 5 menit lagi hujan akan turun.
Bibirku menyunggingkan senyum kecut tatkala mendapati kesadaran bahwa; sebentar lagi turun hujan, aku belum sampai dirumah, jarak rumahku terlampau jauh, sudah terlalu sore, dan mungkin bus terakhir telah melintas beberapa saat yang lalu.
Aku terjebak di halte ini. Sendirian. Tak bisa pulang.
Dan benar saja. Langit mulai bergemuruh diikuti rintikan hujan yang semakin deras. Sangat deras.
'Ah yang benar saja, seharusnya aku pulang lebih awal,' gumamku terus menerus.
Rambut pendek sebahu yang kugerai bebas mulai tertiup angin. Udara dingin semakin menusukku. Kuputuskan untuk kembali ke gedung sekolah dengan berlari kecil.
Kakiku melangkah melewati koridor-koridor sekolah yang sepi. Sepi sekali, hingga rasanya hanya ada aku satu-satunya manusia disana.
Hening. Aku takut.
Aku bersenandung kecil untuk menghibur rasa takutku itu.
Lalu tiba-tiba mataku menangkap sekelebat bayangan yang melintas di ujung lorong sana.
Aku tercekat.
"Hei, siapa itu?" panggilku dengan nada gemetar.
Tidak ada jawaban. Kembali hening.
Lampu di salah satu ruangan yang berada tepat dihadapanku menyala kemudian redup lalu kembali menyala.
Aku mengerutkan kening.
Diikuti rasa penasaran, aku melangkah mendekati ruangan itu. Aku meraih gagang pintu dan mulai mendorongnya.
Deritan pintu menggema di dalam ruangan itu. Aku menaksir seisi ruangan lalu aku menengadah.
Mataku tertuju pada sesuatu yang menggelantung ditengah ruangan sana. Bukan sesuatu. Seseorang dengan tali yang melilit dilehernya, lidah yang terjulur, mata yang melotot.
Mata kami bertemu. Tatapan tajam miliknya tak akan pernah dapat kulupakan.
Aku merasa sangat mual tatkala melihat rambut pendek sebahu perempuan yang gantung diri itu.
Aku merasa sangat mual tatkala melihat tas berwarna coklat yang masih ia gendong dipunggungnya.
Aku merasa sangat mual tatkala melihat jarum jam pada arloji hitamnya yang berhenti pada pukul 17.17.
Aku merasa sangat sangat mual tatkala ditampar kesadaran bahwa perempuan yang gantung diri itu adalah aku.
Aku. Aku. Aku.
Aku berbalik, mengambil langkah seribu.
Langkahku hampa, tanpa jejak dan tanpa suara.
Aku meninggalkan gedung sekolah itu, berlari sekencang-kencangnya menyeberangi gerbang kemudian kembali menjejakkan kakiku ini di halte bus sekolah. Kembali duduk disana.
Aku melirik arlojiku. Pukul 17.17.
Aku yakin tak sampai 5 menit lagi hujan akan turun.
Bibirku menyunggingkan senyum kecut tatkala mendapati kesadaran bahwa: sebentar lagi hujan akan turun, aku belum sampai dirumah, jarak rumahku terlampau jauh, sudah terlalu sore, dan mungkin bus terakhir telah melintas beberapa saat yang lalu.
Aku terjebak di halte ini. Sendirian. Tak bisa pulang.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMild hypnotic from random story
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete